Atas Nama Tuhan Yang Maha Esa….
“Sampean ki sapa?”. Dalam bahasa
Indonesia yang artinya, “ Anda ini siapa?”. Ya, mungkin itu adalah pertanyaan
termudah yang pernah ada. Selama dia masih dapat berfikir normal. Singkat saja,
dia akan segera menjawab nama dia. Kupikir, itu adalah jawaban yang kurang
meyakinkan. Ada sesuatu dalam pertanyaan itu. Lalu apa?
Adalah sebuah ide yang terscecer
dalam otakku. Yang hanya di penuhi sesuatu yang tidak jelas. Buram. Layaknya sebuah
pazzle yang terpisah dari kawannya. Tersampar , tersapu, hingga termakan anak
bayi. Bagaimanakah menyatukannya?. Aku yakin anda akan bingung. Yah, begitulah
kira-kira kehidupanku.
Mula-mula, mari ku ajak berkenalan
dengan diriku. Aku seorang kapiten—ahaha lupakan!. Seperti jawaban orang umum,
jika ditanya “siapa kamu?”. Hmmm…. Namaku Aisyah Rizqi Hamidah. Lahir di Rumah
bersalin yang bernama Bu Giyadi. Pada hari, Jum’at Wage. Tanggal, 22 Agustus 1997.
Tepat pukul 15.00, aku lahir. Kata orang, atau lebih tepatnya Buku Primbon,
weton lahirku adalah pembawa bencana. Tapi juga membawa berkah. Symbol keseimbangan—heee.
Ada kalanya aku membuat mekhluk sekitarku bahagia dan merasa nyaman. Akan tetapi,
ada juga saat-saat aku menjadi musuh mereka. So, waspadalah-waspadalah!!
Masa kecilku, aku memang cantik,
imut, putih seputih susu. Namun seiring berjalannya waktu, hal itu hilang . . .
musnah begitu saja. Layaknya cat tak bermerek. Mudah luntur.tak berbekas
segorespun. Ohh. . . sungguh malangnya diriku. But, what do I care? Yang penting
maju!
Seperti halnya cat. Berbagai pilihan
warna. Berbagai pilihan merek tersedia. Ketrampilan seseorang masing-masing ada
semua. Entah itu dalam bidang seni, politik, atlet, arsitek, dan segudang
ketrampilan yang takkan kusebutkan
disini. Mungkin, berjuta manusia telah menemukan keahliannya. Tapi , ada juga
yang belum menemukanya. Ya, masih ada seseorang yang seperti itu. Ia bingung. Ingin
seperti ini, tapi kondisi tidak mendukung. Ingin seperti itu, fasilitas tidak
ada. Lalu bagaimana?
Tuhan menciptakan manusia sedemikian
rupa. Dengan memberikan sebuah kelebihan dan kelemahan. Kelebihan ini, dapat
berupa ketrampilan itu tadi, kesenian yang abstrak ataupun konkret. Selain itu,
ada juga kelemahan yang sangat mengganggu. Kelebihan ini berfungsi untuk
menutupi kelemahan. Istilah Jawanya MIKUL DUWUR MENDEM JERO. Misalnya, seorang
anak memiliki keahlian dalam tulis menulis, ia sangat pintar menulis. Tulisannya
sangat terkenal di masyarakat umum. Hingga ke menca Negara. Tapi tak disangka
tak dinyana, ternyata ia banyak kekurangan. Seandainya semua orang tahu sebelum
membaca karya-karya emasnya, kemungkinan besar karyanya tidak pernah dibaca. Ia
cacat. Akan tetapi, karena karyanya yang lebih menonjol. Ia tak pernah di
pandang sebelah mata. Ia telah mengubur
kelemahan, dan menjunjung tinggi kelebihan. LUAR BIASA.
Berbeda denganku. Dia telah menemukan
jati dirinya. Sedangkan aku?. Kini, aku sedang dalam keterpurukan yang tak ada
habisnya. Kegalauan yang tak kunjung reda. Yah. . . dengan pertanyaan yang
masih saja menggelayuti fikiranku. WHO ARE YOU?. Aku ini siapa??? Hah?!. Pertanyaan
yang tak kunjung bertemu jawaban. Apa aku ini hanya seorang manusia yang
kosong? Tak berisi? Boleh jadi.
Tapi, entah ini akan menjadi solusi
atau malah semakin memperunyam keadaan? Akanku buktikan!. Aku memiliki hobi
beberapa hobi dan satu keinginan. Yang akan kujadikan sebuah atau beberapa
keahlian. Amat susah mengembangkannya.
Ada yang bilang, aku ini pintar
menyanyi. What? Menurutku ini hanya pas-pasan. Tak ada unik-uniknya. Suaraku tak
lebih dari suara sapi yang melenguh. Aku juga pernah mendengar sendiri pujian
itu. Tapi benarkah? Aku tak prcaya. Ahhh… apa-apaan ini?. Tapi, mungkin aku
masih ada kesempatan dalam hal itu. Mungkin Tughan memang menghendaki ku. Aku berjanji.
Ya, celah itu akan kumanfaatkan semaksimal mungkin. I’m Promise!
Gitar. Akupun hobi dalam alat music ini.
Meski masih dasar. Tapi, aku ingin mempertahankan hobiku. Paling tidak dasar
lah. Walaupun aku tidak memiliki alatnya. Sebenarnya aku juga ingin memiliki
gitar. Yah, masalah itu memang sangat serius. Wong bisa main gitar kok ndak
punya gitar? Aneh kali kau ini? Beli lah. . Pakai apa? Itu pertanyaan yang membuatku
tersiksa bro. . Mana tak punya penghasilan lagi. Oi?!. Sama seperti gitar tadi.
Tak ada uang, takkan dapat. Ya, Camdig atau DSLR juga boleh deh. Tapi, aku
harus dapat! Harus!
Lupakan masalah Gitar dan Camdig. Nah,
hobi yang satu ini mungkin tanpa modal juga bisa. Hmm. . tapi tidak tepat bila
kukatakan tanpa modal. Semua itu JER BASUKI MAWA BEA—Segala sesuatu memang
memerlukan biaya. Tidak ada yang Gratis. Hare
gene grates? Mate aja loe!. Bela diri. Sangat kusukai, selain membuatku
sehat aktivitas ini juga sangat penting untuk melindungi diri. Bela diri yang
kami ikuti disini termasuk bagus. Jadi, bela diri ini memanfaatkan seluruh
tubuh. Dari leher, tangan, perut, pinggang, dan juga kaki. Seluruh tubuh
dimanfaatkan. Setiap gerakkan diperhatikan. Lain dari yang lain. Gerakkannya
mematikan bro. Apa lagi kalau bukan TARUNG DERAJAT. Aku bermimpi ingin menjadi
pelatih. Oohh. . . aku akan mewujudkannya! Aku janji!!! Tapi kapan?
Hmmm. . kapanpun itu, pasti akanku
laksanakan. Yah, masih ada satu lagi yang ingin kugapai. Menjadi atlet Renang. Meskipun,
jujur aku takut dengan air. Tapi yang membuatku semangat untuk menjadi perenang
ialah iingin mempertinggi badan. Karena aku terlahir dengan tinggi yang cenderung
pendek. Juga apabila sedang berada ditengah-tengah laut, dan kapal yang
kutumpangi karam, aku dapat berenang menyelamatkan diri dan mereka yang berkapal
bersamaku pula.
Haaa. . satu lagi, Psikiater. Yah,
menjadi pengamat kejiwaan anak-anak. Mau sekali. Meskipun aku tidak teramat
senang dengan anak-anak, entah mengapa hati kecilku menginginkan sebuah
pekerjaan yang tak kusukai. Apakah Tuhan juga menghendaki itu? Ahh. .kurasa
memang begitu.
Namun, satu hal yang amat aku
inginkan adalah. Aku ingin menjadi MANUSIA. Ya. Aku tahu, aku belum menjadi
MANUSIA. MANUSIA dalam artian yang seperti apa? Menjadi MANUSIA yang SEMPURNA.
MANUSIA PARIPURNA. Menjadi manusia sesuai fitrahnya, mengabdi kepada Sang Hyang
Widhi, karena hanya kepada-Nyalah aku akan kembali. Menjadi menusia yang
berguna bagi mereka. Tidak memikirkan EGO semata. Sifat hewan yang melekat dalam
diriku ini. Belum menjadi manusia RUH. Masih manusia DARAH dan DAGING. Belum terberkati.
MANUSIA YANG BERKARAKTER HEWAN.
Nah, itulah Cita-citaku, harapanku,
impianku. Aku percaya aku bisa menaklukkan EGOku! Aku BISAAAAA!!!!! Dengan satu
syarat, KERJA KERAS dan KERAS KEPALA!.
Agar menjadi rahmat bagi SEMESTA
ALAM. Aku usahakan!
Segala Puji Bagi Tuan Yang Maha Esa.
.
Damai sejahtera Nusantara. . . . .
0 komentar:
Posting Komentar