Pages

Jumat, 14 Maret 2014

"Siapa Aku?"

Atas Nama Tuhan Yang Maha Esa….
“Sampean ki sapa?”. Dalam bahasa Indonesia yang artinya, “ Anda ini siapa?”. Ya, mungkin itu adalah pertanyaan termudah yang pernah ada. Selama dia masih dapat berfikir normal. Singkat saja, dia akan segera menjawab nama dia. Kupikir, itu adalah jawaban yang kurang meyakinkan. Ada sesuatu dalam pertanyaan itu. Lalu apa?
Adalah sebuah ide yang terscecer dalam otakku. Yang hanya di penuhi sesuatu yang tidak jelas. Buram. Layaknya sebuah pazzle yang terpisah dari kawannya. Tersampar , tersapu, hingga termakan anak bayi. Bagaimanakah menyatukannya?. Aku yakin anda akan bingung. Yah, begitulah kira-kira kehidupanku.
Mula-mula, mari ku ajak berkenalan dengan diriku. Aku seorang kapiten—ahaha lupakan!. Seperti jawaban orang umum, jika ditanya “siapa kamu?”. Hmmm…. Namaku Aisyah Rizqi Hamidah. Lahir di Rumah bersalin yang bernama Bu Giyadi. Pada hari, Jum’at Wage. Tanggal, 22 Agustus 1997. Tepat pukul 15.00, aku lahir. Kata orang, atau lebih tepatnya Buku Primbon, weton lahirku adalah pembawa bencana. Tapi juga membawa berkah. Symbol keseimbangan—heee. Ada kalanya aku membuat mekhluk sekitarku bahagia dan merasa nyaman. Akan tetapi, ada juga saat-saat aku menjadi musuh mereka. So, waspadalah-waspadalah!!
Masa kecilku, aku memang cantik, imut, putih seputih susu. Namun seiring berjalannya waktu, hal itu hilang . . . musnah begitu saja. Layaknya cat tak bermerek. Mudah luntur.tak berbekas segorespun. Ohh. . . sungguh malangnya diriku. But, what do I care? Yang penting maju!
Seperti halnya cat. Berbagai pilihan warna. Berbagai pilihan merek tersedia. Ketrampilan seseorang masing-masing ada semua. Entah itu dalam bidang seni, politik, atlet, arsitek, dan segudang ketrampilan  yang takkan kusebutkan disini. Mungkin, berjuta manusia telah menemukan keahliannya. Tapi , ada juga yang belum menemukanya. Ya, masih ada seseorang yang seperti itu. Ia bingung. Ingin seperti ini, tapi kondisi tidak mendukung. Ingin seperti itu, fasilitas tidak ada. Lalu bagaimana?
Tuhan menciptakan manusia sedemikian rupa. Dengan memberikan sebuah kelebihan dan kelemahan. Kelebihan ini, dapat berupa ketrampilan itu tadi, kesenian yang abstrak ataupun konkret. Selain itu, ada juga kelemahan yang sangat mengganggu. Kelebihan ini berfungsi untuk menutupi kelemahan. Istilah Jawanya MIKUL DUWUR MENDEM JERO. Misalnya, seorang anak memiliki keahlian dalam tulis menulis, ia sangat pintar menulis. Tulisannya sangat terkenal di masyarakat umum. Hingga ke menca Negara. Tapi tak disangka tak dinyana, ternyata ia banyak kekurangan. Seandainya semua orang tahu sebelum membaca karya-karya emasnya, kemungkinan besar karyanya tidak pernah dibaca. Ia cacat. Akan tetapi, karena karyanya yang lebih menonjol. Ia tak pernah di pandang sebelah mata.  Ia telah mengubur kelemahan, dan menjunjung tinggi kelebihan. LUAR BIASA.
Berbeda denganku. Dia telah menemukan jati dirinya. Sedangkan aku?. Kini, aku sedang dalam keterpurukan yang tak ada habisnya. Kegalauan yang tak kunjung reda. Yah. . . dengan pertanyaan yang masih saja menggelayuti fikiranku. WHO ARE YOU?. Aku ini siapa??? Hah?!. Pertanyaan yang tak kunjung bertemu jawaban. Apa aku ini hanya seorang manusia yang kosong? Tak berisi? Boleh jadi.
Tapi, entah ini akan menjadi solusi atau malah semakin memperunyam keadaan? Akanku buktikan!. Aku memiliki hobi beberapa hobi dan satu keinginan. Yang akan kujadikan sebuah atau beberapa keahlian. Amat susah mengembangkannya.
Ada yang bilang, aku ini pintar menyanyi. What? Menurutku ini hanya pas-pasan. Tak ada unik-uniknya. Suaraku tak lebih dari suara sapi yang melenguh. Aku juga pernah mendengar sendiri pujian itu. Tapi benarkah? Aku tak prcaya. Ahhh… apa-apaan ini?. Tapi, mungkin aku masih ada kesempatan dalam hal itu. Mungkin Tughan memang menghendaki ku. Aku berjanji. Ya, celah itu akan kumanfaatkan semaksimal mungkin. I’m Promise!
Gitar. Akupun hobi dalam alat music ini. Meski masih dasar. Tapi, aku ingin mempertahankan hobiku. Paling tidak dasar lah. Walaupun aku tidak memiliki alatnya. Sebenarnya aku juga ingin memiliki gitar. Yah, masalah itu memang sangat serius. Wong bisa main gitar kok ndak punya gitar? Aneh kali kau ini? Beli lah. . Pakai apa? Itu pertanyaan yang membuatku tersiksa bro. . Mana tak punya penghasilan lagi. Oi?!. Sama seperti gitar tadi. Tak ada uang, takkan dapat. Ya, Camdig atau DSLR juga boleh deh. Tapi, aku harus dapat! Harus!
Lupakan masalah Gitar dan Camdig. Nah, hobi yang satu ini mungkin tanpa modal juga bisa. Hmm. . tapi tidak tepat bila kukatakan tanpa modal. Semua itu JER BASUKI MAWA BEA—Segala sesuatu memang memerlukan biaya. Tidak ada yang Gratis. Hare gene grates? Mate aja loe!. Bela diri. Sangat kusukai, selain membuatku sehat aktivitas ini juga sangat penting untuk melindungi diri. Bela diri yang kami ikuti disini termasuk bagus. Jadi, bela diri ini memanfaatkan seluruh tubuh. Dari leher, tangan, perut, pinggang, dan juga kaki. Seluruh tubuh dimanfaatkan. Setiap gerakkan diperhatikan. Lain dari yang lain. Gerakkannya mematikan bro. Apa lagi kalau bukan TARUNG DERAJAT. Aku bermimpi ingin menjadi pelatih. Oohh. . . aku akan mewujudkannya! Aku janji!!! Tapi kapan? 
Hmmm. . kapanpun itu, pasti akanku laksanakan. Yah, masih ada satu lagi yang ingin kugapai. Menjadi atlet Renang. Meskipun, jujur aku takut dengan air. Tapi yang membuatku semangat untuk menjadi perenang ialah iingin mempertinggi badan. Karena aku terlahir dengan tinggi yang cenderung pendek. Juga apabila sedang berada ditengah-tengah laut, dan kapal yang kutumpangi karam, aku dapat berenang menyelamatkan diri dan mereka yang berkapal bersamaku pula.
Haaa. . satu lagi, Psikiater. Yah, menjadi pengamat kejiwaan anak-anak. Mau sekali. Meskipun aku tidak teramat senang dengan anak-anak, entah mengapa hati kecilku menginginkan sebuah pekerjaan yang tak kusukai. Apakah Tuhan juga menghendaki itu? Ahh. .kurasa memang begitu.
Namun, satu hal yang amat aku inginkan adalah. Aku ingin menjadi MANUSIA. Ya. Aku tahu, aku belum menjadi MANUSIA. MANUSIA dalam artian yang seperti apa? Menjadi MANUSIA yang SEMPURNA. MANUSIA PARIPURNA. Menjadi manusia sesuai fitrahnya, mengabdi kepada Sang Hyang Widhi, karena hanya kepada-Nyalah aku akan kembali. Menjadi menusia yang berguna bagi mereka. Tidak memikirkan EGO semata. Sifat hewan yang melekat dalam diriku ini. Belum menjadi manusia RUH. Masih manusia DARAH dan DAGING. Belum terberkati. MANUSIA YANG BERKARAKTER HEWAN.
Nah, itulah Cita-citaku, harapanku, impianku. Aku percaya aku bisa menaklukkan EGOku! Aku BISAAAAA!!!!! Dengan satu syarat, KERJA KERAS dan KERAS KEPALA!.
Agar menjadi rahmat bagi SEMESTA ALAM. Aku usahakan!
Segala Puji Bagi Tuan Yang Maha Esa. .

Damai sejahtera Nusantara. . . . . 

0 komentar:

Posting Komentar

 

(c)2009 Sugeng Rawuh Wonten Blog Kula. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger