Judul
: Sewindu Dekat Bung Karno.
Pengarang
: Bamabang Widjanarko.
Penerbit
: PT.Gramedia.
Buku ini, adalah sedikit cuplikan kisah dari seorang Bung Karno.
Akan tetapi, buku ini ditulis oleh seseorang yang dekat dengannya, beliau
bernama Bambang Widjanarko. Pak Bambang ini, dulunya adalah Tentara, tetapi,
tak lama kemudian, beliau di perintah untuk menjdi Ajudan Presiden/Panglima
Tertinggi ABRI (Bung Karno).
Beliau menuliskan pengalaman yang beliau alami pribadi, dan selama
bertugas sebagai Ajudan Presiden, juga, sekitar manusia Sukarno.
Sukarno yang sangat menyayangi sesamanya, hewan, tumbuhan, beliau
tidak pernah, sekali saja membunuh sesamanya,bahkan, lalat dan nyamuk pun,
tidak akan di bunuhnya, beliau juga sangat senang dengan seni dan patung.
Beliau sangat menyukai sebuah lukisan . Lukisan pelukis besar Basuki Abdullah
adalah favoritnya. Bung Karno sendiri adalah seorang seniman. Salah satu buah
karyanya adalah yang menggambarkan seorang wanita berkebaya hijau. Bung Karno
juga sangat menyenangi sebuah patung. Salah satu patung yang beliau senangi
adalah patung yang di pasang indah serasi di belakang Istana Bogor menghadap
kolam teratai luas kebun Raya, dan sebuah patung Dewi Kwan Im dari keramik yang
telah berumur berabad-abad.
Seni tari dan seni suara pun, Bung Karno juga suka, meskipun
secara pribadi, Bung Karno tidak dapat membawakanya sendiri dengan baik. Dan,
beliau lebihcenderung kea rah tradisional. Tarian Gatot Kaca merupakan tarian
favorit Bung Karno.
Bung Karno sangat menyukai wanita, sampai-sampai, beliau memiliki
istri lebih dari 1, mereka adalah, Ibu Fatmawati dan Ibu Hartini. Sebelumnya ,
Bung Karno memiliki 4 orang istri, namun entah mengapa, setelah
beberapa lama, beliau ceraikan.
Pada tahun 1963, rombongan Bung Karno pergi ke Wina, beliau pergi
ke negeri itu, hanyalah untuk memeriksakan penyakitnya─kencing batu. Di dalam
buku ini, juga terdapat foto-foto Bung Karno pada saat KTT NON BLOK, Beograd
’61, Bung Karno pada saat Pidato, TOAST bersama, dan masih banyak lagi.
Sebagai seorang Presiden, Bung Karno sangat terancam
keselamatanya. Dan selama menjadi Presiden, Bung Karno ini sangat tidak jarang
menghadapi percobaan pembunuhan, seperti, penggranatan di Sekolahan Cikini,
penembakan dengan senapan mesin dari kapal terbang oleh Pilot Maukar,
penembakan dengan pistol sewaktu sholat Idul Adha di halaman Istana, penembakan
dengan mortir antara lapangan terbang Mandai─Makassar.
Beliau sangat perhatian kepada bawahanya, bahkan sopirnya pun,
beliau perhatikan. Sehingga, membuat semua orang menyayanginya. Bung Karno
tidak membeda-bedakan, mana bawahan , mana petinggi, beliau tidak egois. Beliau
juga sangat mencintai rakyatnya.
Hubungan erat Sukarno-Hatta, Dwi Tunggal Indonesia. Walaupun Hatta
mengundurkan diri sebagai wakil Presiden RI, akan tetapi, mereka berdua
bersahabat, mereka tetap saling menjaga hubungan dengan erat. Gigih dalam
mempertahankan dan memperjuangkan pendirianya, namun tetap manusiawi dalam
melaksanakan hidup, serta hubungan satu sama lain.
Sewaktu kecil, Bung Karno memang berbakat dalam berpidato. Maka
dari itu, di saat beliau berpidato, pasti kalian tahu lah, beliau
selalu berapi-api. Sungguh menggemaskan! Pidato yang selalu membuat seluruh
rakyatnya larut di dalamnya.
Pak Bambang Widjanarko, adalah seorang Tentara, sudah menjadi
haknya, apabila, ia ingin melanjutkan keinginannya untuk menjadi Tentara AL.
Akan tetapi, ia selalu tidak di ijinkan oleh Bung Karno, kerena, beliau masih
sangat membutuhkan Pak Bambang, sebagai Ajudan Presiden. Dan Pak Bambang pun
menuruti perintah Bung Karno.
Adanya peristiwa pengkhianatan G30-S PKI, menjadikan suhu politik
di Indonesia melonjak amat panas. Hari-hari yang teramat berat bagi Bung Karno.
Karena Kejadian itu, banyak rakyat yang mulai membencinya. Namun, sebenarnya,
beliau sangat di cintai oleh rakyatnya. Ketika beliau wafat pun, banyak orang
yang turut mengantarnya ke pemakaman di Blitar, tak peduli itu dari jauh atau
dekat.
Hari Minggu siang, tanggal 21 Juni 1970, Bngsa Indonesia telah
kehilangan salah seorang pemimpinya yang menonjol. Setelah menderita sakit
beberapa lama, akhirnya Bung Karno di panggil kembali oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Selesailah sudah kewajibanya menjalani hidup di alam fana, sempurnalah tugas
bakti yang beliau persembahkan bagi bangsanya yang amat ia cintai.
“Ya Tuhan, Engkau telah berkenan mamanggil kembaliputraMu Bung
Karno. Terimalah kiranya arwah beliau ini, di sisiMu. Sudilah Engkau mengampuni
segala dosa-dosanya dan berkenanlah Engkau menerima segala tekad dan perbuatan
yang baik. Engkau Maha Tahu ya Tuhan , dan Engkaulah Maha Kuasa, aku mohon
kabulkanlah doaku ini. Amin .”
Begitulah yang di ucapkan Pak Bambang untuk seorang Sukarno, pada
saat kepergianya.
Manusia Sukarno telah tiada. Putra fajar yang lahir di dunia ini
tatkala surya mulai bersinar, namun kini telah terbenam , kembali kepelukan
bumi Nusantara.
“Selamat jalan Bung Karno, Kami akan selalu mengenangmu, dan
akan mewujudkan cita-citamu yang tinggi itu. Semoga kau dapat melihat apa yang
sedang kami perjuangkan, untuk dapat mencapainya”. MERDEKAA!!! . Itu
doaku untukmu Bung Karno.
Menurut saya , buku ini
masih ada yang kurang di perhatikan , seperti, tanda bacanya. Dan juga, buku
ini seperti Diary, saya agak suka , tapi baguss!
Saya suka cara beliau menceritakan seorang Sukarno, berdasarkan karakternya.
Demikian resensi dari saya, terimakasih telah di baca.
Puji Tuan Yang Maha Esa. . .
Puji Tuan Yang Maha Esa. . .

0 komentar:
Posting Komentar